Friday, December 06, 2013

Reality ( NOT ) Show

Anak ini berdiri tidak jauh dari kami, seolah ingin mengambil perhatian kami walau sedetik, melipat tangan di perutnya sambil memejamkan mata dengan mimik wajah tidak biasa, sesekali dia membuka sedikit matanya untuk mengintip apakah kami bergeming melihat tingkahnya, jika kami tetap mengobrol, satu langkah dia mendekat ke arah kami, begitu seterusnya sampai akhirnya dia berdiri sangat dekat dengan kami, masih tetap dengan melipat tangan dan memejamkan mata.

5 Desember 2013, sekitar pukul 9 pagi, kami dari anggota Senat Bahasa Arab Universitas Al-Azhar (SEMA FBA) Cairo berkumpul di pelataran masjid Al-Azhar, untuk acara penutupan kegiatan semester awal ini, untuk kemudian mengadakan "Ngupret" bersama mengelilingi situs-situs sejarah Islam di sekitar Masjid ini, Kami waktu itu berjumlah sekitar 15-an orang, 5 orang perempuan dan selebihnya laki-laki.

"Dekil sekali anak ini, siapa orang tuanya, tega sekali anaknya dibiarkan seperti ini," batin saya, karena memang waktu itu masih sangat pagi bagi warga Kairo untuk melakukan aktifitas, sedangkan anak ini, dekilnya sudah seperti mengalahkan bapak-bapak yang bekerja seharian di sawah, rambut keriting yang sangat kumal, kukunya yang sangat hitam, belum lagi pakaiannya, sangat tidak layak.



Tapi ada sesuatu yang saya rasa sangat unik dari anak ini,
banyak anak semacam dia sudah memasang wajah memelas sambil membawa tissue jika mereka melihat orang asing seperti kami, agar kami memberi mereka "sedekah", apalagi kami sedang bergerombol, dan saya, termasuk dari salah satu orang yang paling berat mengeluarkan "sedekah" untuk mereka, bukan karena saya tidak kasian atau terlalu egois, tapi saya hanya tidak ingin kota Kairo ini dipenuhi pengemis pemalas sehingga menjadi bertambah kotor.
Di tambah lagi pengalaman saya ketika berjalan di salah satu lorong di daerah distrik 10, Nasr City, seorang anak 15-an tahun dengan berjalan pincang sambil bertekan pada tongkatnya, menggunakan pakaian pribumi lengkap dengan perban di kakinya, meminta "sedekah" kepada salah satu warga, sampai akhirnya ada satu orang Mesir yang mungkin pernah bertemu dia, datang dari arah berlawanan memukul punggung anak  tersebut, setelah melihat orang yang memukul tadi, si pengemis kecil ini lari terbirit-birit sambil mengangkat baju jalabiyyahnya dengan posisi berlari yang sangat profesional, bahkan tongkat yang ia pakai untuk menahan tubuhnya tadi dia tenteng dengan kuat. (bisa dibayangkan ?)

Baiklah, jadi dari situ saya menjadi sangat selektif dalam ber"sedekah".

Dan anak kecil satu ini tidak, dia mendekati kami dengan cara yang cukup unik, tanpa mengadahkan tangan dan muka memelas, bahkan dia tidak membawa selembarpun tissue untuk ditawarkan kepada kami, membuat saya menjadi penasaran.

Dengan sedikit jijik saya dekati dia, saya beranikan diri untuk menanyakan nama dan tempat tinggalnya, "Ana Muhammad, sakin duweah," (Saya Muhammad, saya tinggal di duweah), duweah adalah salah satu pemukiman yang tidak terlalu bersih, bisa di lihat setiap kami yang tinggal di Nasr City jika ingin berangkat kuliah di Al-Azhar Darrasa, akan melewati tempat ini,

Saya lanjutkan dengan pertanyaan kegiatan ayah dan ibunya, "abi syughul fii mabna, wa ummi syughul fii beit," (ayahku bekerja sebagai kuli bangunan dan ibuku bekerja di rumah)

Kemudian melihat keadaan dia yang sangat dekil waktu itu saya mencoba menanyakan lagi tentang umur, sekolah dan jumlah saudaranya, "ana musy mutaakkid, mumkin tes'ah, ana ma aruhsy madrasah, ana ma'aya setta ikhwah, ana romu talta," (saya tidak yakin, mungkin umur saya 9 tahun, saya tidak pergi ke sekolah, saya punya enam saudara dan saya anak ketiga)

Sedikit tercekat saya mendengarnya, saya hanya tidak bisa membayangkan berapa umur adiknya yg ke enam dan bagaimana keadaan mereka sekarang, atau bahkan dua kakaknya, sudah sedekil apa mereka saat ini. Apa mereka juga tidak bersekolah, apa mereka juga menggelandang seperti saudara ke tiga mereka ini tau seperti apa, "ah, sudahlah setidaknya saya harus memberikan dia nasihat,"

"Muhammad, saya minta dari kamu 4 hal ; potong rambutmu, potong kukumu, mandi dan pergilah ke sekolah."

"Maasyi," (Oke) katanya menjawab permintaan saya.

Dan kurang lebih pukul setengah 11 kami mulai berjalan kaki, saya berpamitan kepada Muhammad, ketika saya ulurkan tangan untuk bersalaman, dia sedikit ragu untuk menyambut tangan saya, reflek saya ambil tangan kanannya dan dia sedikit meringis sakit, setelah saya lihat, astaghfirullah !! pergelangan tangan anak ini patah, pergelangan tangannya jelas sekali bergeser ke bawah tulang tangannya.
Dia tidak cacat, pasti ini karena dia pernah terjatuh atau yang lain, ketika saya tanya mengapa tangannya seperti ini, dia hanya menggeleng.

Ya Allah, serasa hati saya tak menentu melihat keadaan ini, bagaimana tidak, dia sama sekali tidak memperlihatkan tangan patahnya ini untuk mengais pond, bahkan dia tetap tersenyum dan membahagiakan kami dengan tingkah uniknya tadi walaupun keadaannya sedang tidak sehat.
Saya yakin kita semua belum tentu sehebat dia, bersikap tegar ketika dia sebagai "yang terabaikan" tetap melihat kita sebagai seseorang, 
Bayangkan, dia hanya Muhammad kecil yang seharusnya pergi ke sekolah dan bermain dengan anak seusianya, pembodohan macam apa ini ?
Saya tidak tahu siapa yang harus disalahkan dan apa yang harus dilakukan.

Karena merasa iba, ketua senat kami mengeluarkan selembar 5 pond untuk diberikan kepadanya, setelah itu dengan berat hati saya mengucapkan salam kepada Muhammad dan mulai berjalan bersama yang lain.

------------------------------

Setelah itu di sekitar halaman masjid Al-Ghoury, masih dengan pikiran yang terisi penuh dengan Muhammad, saya menoleh ke belakang dan saya melihat Muhammad berlari pelan mengikuti rombongan kami.
Entah mengapa hati saya menjadi lega dan tanpa pikir panjang saya rangkul dia untuk ikut dalam rombongan kami, 

"Ihna hanruh  fein?" (Kita mau pergi kemana) tanyanya.
"Kita jalan-jalan, ikut aja deh"
Kemudian dengan gaya khasnya yang periang dia mengangguk bahagia.


Waktu itu kami seperti saudara kandung yang dipisahkan sejak lahir, kemudian dipertemukan, banyak sekali yang dia ceritakan dan dia tanyakan waktu itu, 

Bukan manja yang di buat-buat, bukan pelukan dusta, bukan meminta karena nafsu, 
Subhaanallah, dia ini manusia biasa ya Allah.
Saya masih tidak percaya dia ini anak gelandangan, 

Pernah saya tanyakan, apa cita-citanya kelak jika sudah dewasa. "Ana Ayz Muhandis, waa akhuya Abdurrohman romu arba'a sawwaa thoyyar, wa akhuya romu khamsa ayz syurthah wa abadh harami." (Saya ingin menjadi insinyur, dan Abdurrohman, adik saya yang ke-4 ingin menjadi "sopir pesawat" dan adik saya yang ke-5 ingin menjadi polisi dan menangkap pencuri) katanya dengan semangat.

Semakin terenyuh hati saya mendengar keluguan anak ini.





Bersambung ...

2 komentar:

  1. Lama tdk mengikuti perjalananmu nak, tanpa terasa bulir airmata ini meluncur deras, semoga Allah menolong muhammad kecil itu,,, dan tak tunggu cerita selanjutnya
    ( mama )

    ReplyDelete