Friday, February 13, 2015

Mimpi Apa

       Berbicara tentang masa depan, cita-cita, mimpi dan angan-angan memang tak ada habisnya. Contohnya saja, suatu ketika di umur saya 8 atau 9 tahun, pernah suatu sore saya bermain kelereng  sendirian di halaman belakang rumah dengan hanya menggunakan baju dan celana dalam, saya hanya membawa dua kelereng, yang satu berwarna putih “neker susu” dan satu lagi kelereng bening biasa, saya gali lobang kecil atau biasa kami, orang jawa, sebut leng untuk tempat memasukkan kelereng, lalu saya menarik garis tanah sekitar 5 meter dari leng dan mulai melemparkan kelereng putih dan bening secara bergiliran ke arah  sesuka hati sambil berbicara sendiri, saya membela salah satu kelereng, waktu itu saya membela kelereng putih, meskipun sebenarnya kelereng bening pun saya yang menjalankan, ahahah, sesekali saya melihat ke arah dua pohon mangga dan satu pohon kismis di dekat saya untuk melihat-lihat burung dan buah yang hampir matang. Kemudian setelah beberapa saat, tidak sengaja saya mendongak ke arah langit dan melihat titik kecil bergerak membuat garis putih panjang yang tampaknya sangat tinggi. Tidak perlu berprasangka, saya tahu itu pesawat :D saya ikuti jalan pelan titik putih penggaris langit itu, karena lelah mendongak, saya berbaring di atas tanah melihat ke atas sambil tersenyum sendiri dan membayangkan saya yang berada di atas sana menunggangi sang pesawat, terbang bebas bersama burung-burung, menyentuh awan dan memakannya seperti gula-gula, begitulah awal cita-cita saya ingin menjadi pilot. Eh ? mana kelereng saya ? oh masih ada, sukurlah.  Tapi setelah beberapa tahun kemudian saya mulai mengurungkan cita-cita tersebut karena belakangan akhirnya saya tahu jika pilot itu mengendarai dari dalam pesawat bukan menunggangi pesawat. Selain juga, karena kenyataan kalau sebenarnya saya tidak tinggi, kurus dan tidak terlalu pintar. Passss ! #Akurappopo.  -_-

          Kemudian sedikit beranjak ke sekitar umur 14 sampai 17 tahun an. Waktu itu saya masuk pesantren dan memiliki beberapa sahabat yang gemar sekali bermain skateboard. Topi NY, sepatu skate Vans dan setelan baju plus celana skate ¾ sangat sering kami gunakan ketika berjalan-jalan keluar pesantren. Guru “skate” kami waktu itu hanya video dari handphone sony erricson slide w850i yang dititipkan ke salah seorang ustadz. Kamis sore adalah jadwal wajib kami untuk berlatih di lapangan “tidak rata” pesantren yang terbuat dari batako, hanya lapangan takraw berukuran sekitar 10 X 8 meter saja yang memiliki permukaan halus dan selalu ramai pemain, karena ruang lapang rata yang sempit itu lah kami sering mencuri-curi waktu berlatih di teras asrama yang berlantai keramik. Lumayan, beberapa teknik sangat kami kuasai waktu itu. Nah, pada waktu itu lah saya bercita-cita menjadi seorang ustadz skateboarder yang menurut saya waktu itu terlihat keren.

          Tapi ternyata, skateboard tidak benar-benar memuaskan kami. Masih di kisaran umur yang sama, sahabat saya mulai belajar bermain basket streetball, saya pun tertarik dan ikut berlatih. Setelah sedikit menguasai beberapa tekhnik seperti memutar bola di atas jari dan melakukan beberapa gaya tekhnik freestyle, di umur puber kami yang sangat kental dengan kelabilan dan hobi caper di depan akhwat, gaya-gaya kami sukses membuat mereka terpesona. Uuuh, bangganyaaa, meskipun jika kita tanya langsung akhwatnya saya yakin mereka akan menjawab, “áh¸biasa aja tuh,” sambil memalingkan wajah, berjalan menjauh dan mengernyitkan muka menyesal berharap untuk kami panggil lagi, ahahahahh. Beberapa sahabat saya bahkan sempat ikut salah satu kompetisi bergengsi streetball di Jogja meskipun kalah, tapi paling tidak, namanya melejit di pesantren kami. Ketika itu, saya sangat ingin sekali menjadi ustadz streetballer yang mengisi pengajian dengan membawa bola basket kemana-mana.

            Lalu beranjak lagi ke sekitar umur saya 19 sampai 21 tahun. Posisi ketika kita dihadapkan dengan pintu awal kehidupan, kebetulan setelah menyelesaikan pendidikan enam tahun, saya diwajibkan untuk mengabdi di pesantren selama setahun. Saya mendapat tugas mengasuh siswa baru dari kelas satu sampai kelas lima SD, cukup berat, tapi karena pekerjaan ini akhirnya saya mengerti bagaimana harus bersikap, malam hari menjadi ayah yang mendongeng dan menina bobo kan 13 anak dalam waktu bersamaan, pagi harinya, menjadi guru tegas yang berharap santrinya kelak menjadi orang hebat. Alhamdulillah, canda tawa anak-anak sebelum tidur, masih selalu menenangkan saya, bahkan sampai sekarang, Di umur ini saya merasa lebih selektif dan berpikir dua kali untuk menentukan langkah ke depan, cocok tidaknya, bagus tidaknya, bagaimana keuntungan yang saya dapat setelahnya. Begitulah, tidak seberani dulu.

            Sekarang, di umur saya yang berjalan di angka 22 tahun dan terus menua ini, saya merasa sangat dituntut untuk memahami dan menyelesaikan semua masalah. Seperti suatu saat anda berjalan di sebuah lorong kota, lalu ada beberapa pemuda mabuk di depan dan mengeroyok anda, atau ketika anda harus berdamai dengan diri anda sendiri karena seseorang menampar kepala anda dan anda tidak membalas, bukan karena tidak mampu melawan. Saya lebih memilih berpikir sederhana dan tidak ambil pusing untuk menyelesaikan masalah, memang terkesan konyol, tapi keyakinan saya terhadap kekuatan ikhlas menerima berhasil mengalahkan ego kekanakan saya. 

             Saat ini juga, saya dan beberapa sahabat sedang belajar menjalankan roda usaha media bernama Media Fatih, kami mulai dari sekitar satu tahun yang lalu, dengan niat sebagaimana niat Rasulullah menyatukan qabilah Arab di bawah Islam, sebagaimana Khalifah Umar menyatukan umat sepertiga dunia dari ujung timur Persia sampai barat laut Eropa di bawah Islam, sebagaimana Shalahuddin menyatukan berbagai kelompok Islam lalu membebaskan Masjidil Aqsha di bawah Islam. Dengan menarik kesimpulan, bahwa perbedaan diciptakan untuk menyatukan, menyatukan serakan benci yang dikumpulkan menjadi cinta, di bawah nama Islam.

           Dan berbicara tentang mimpi saya sekarang, saya hanya berharap untuk tetap terbangun dan bisa melihat dunia bersatu di bawah nama Islam

Bagaimana dengan mimpi anda ?