Lamunan Kosong
Mataku menatap langit melihat bintang...
Bahkan ia enggan melirikku …
Bahkan ia enggan melirikku …
Seolah ia tak tergoda rayuan inspirasiku
Saling berbisik di balik awan …
Anak hawa di depanku ini sedikit mengusik …
Mengingatkanku pada kalian …
Anak penjual nasi …
Dan pemulung yang ingin merantau …
Entah berapa kali kalian yang di ujung pulau itu mengganggu nyenyakku …
Mencuri perhatianku …
Hei kamu ibu pemulung … !!
Ingatkan sampah itu belum kau punguti …
Karena ku dengar kau terlelap dalam lamunanmu …
Karena ku dengar kau mengukir raut sedih di taman itu …
Hei kamu anak pemulung … !!
Ibumu hanya ingin kau di dekatnya …
Merangkulmu …
Dan memelukmu …
Tak apa engkau bantu ibumu tapi dekat …
Tak apa hasilnya sedikit tapi bahagia …
Daripada aku ..??
Hanya tau cara memulai …
Dan tak tau bagaimana mengakhiri …
Hei kamu penjual nasi …
Masalahmu itu hanya membuat nasimu terjual …
Bukan yang lain … !!!
Untuk apa kau beratkan pikiranmu …
Dan bebanmu … satupun belum engkau letakkan dg benar …
Percayalah …
Ibu dan anak pemulung itu tetap akan menemanimu …
ia hanya berjalan ke taman sebelah untuk membantu membersihkan sejenak ...
Engkau tak perlu kesepian …
Karena masih ada orang gila, pemabok dan pengamen yang menemanimu …
Sementara ibu dan anak pemulung pergi sebentar …
Dan kalian pemabok dan orang gila …
Tetaplah di sana menanti pemulung …
Tetaplah di sana walau matahari mulai meredup …
Dan kamu orang pingsan !!!
Peneriak kalimat pemersatu …
Peneriak uluran tangan itu …
Penyambut tiupan angin ….
Tangan kita waktu itu mengepal …
Tapi entah hatiku seolah mengadah …
Tangan kita waktu itu benar-benar mengeras …
Tapi entah hatiku seolah melembut …
Teriakan kita waktu itu menggetarkan …
Tapi entah hatiku seolah bersenandung …
Dalam gelap kita berbangga …
Dalam gelap kita berpuisi …
Menanti garis sinar di balik kubah hijau …
Tapi cukup !!!
Tak usah lah kalian pergi dari pikiranku …
Ingatkan kenangan kita di taman itu ….
Saat engkau benar-benar menangisi kepergian anakmu …
Saat engkau benar-benar berhenti berharap karena nasimu tak terjual …
Saat engkau benar-benar bersedih karena teriakan …
Ingatlah aku …
Ingatlah kamu …
Ingatlah mereka …
Yang tidak akan membiarkan setetes air matamu jatuh sia-sia …
Yang tidak pernah membiarkan setitik luka pada dirimu …
Di ujung dunia manapun kamu …
Ingatlah kamu mengenal kami …
Di malam ini …
Di realita sandiwara ini …
Kalian berhasil mencuri anganku …
Lihat dari sini ku merindu …
Lihat dari pasir ini ku berharap hujan …
Coretan tangis yang sangat melekat ...
Garis senyum yang tak terlupa …
Begitu indah …

0 komentar:
Post a Comment