Sunday, May 19, 2013

Lamunan Kosong

Mataku menatap langit melihat bintang...
Bahkan ia enggan melirikku …

Seolah ia tak tergoda rayuan inspirasiku 
Saling berbisik di balik awan …

Anak hawa di depanku ini sedikit mengusik …

Mengingatkanku pada kalian …
Anak penjual nasi …
Dan pemulung yang ingin merantau …

Entah berapa kali kalian yang di ujung pulau itu mengganggu nyenyakku …
Mencuri perhatianku …


Hei kamu ibu pemulung … !!
Ingatkan sampah itu belum kau punguti …

Karena ku dengar kau terlelap dalam lamunanmu …
Karena ku dengar kau mengukir raut sedih di taman itu …

Hei kamu anak pemulung … !!
Ibumu hanya ingin kau di dekatnya …
Merangkulmu …
Dan memelukmu …

Tak apa engkau bantu ibumu tapi dekat …
Tak apa hasilnya sedikit tapi bahagia …

Daripada aku ..??
Hanya tau cara memulai …
Dan tak tau bagaimana mengakhiri …

Hei kamu penjual nasi …
Masalahmu itu hanya membuat nasimu terjual …
Bukan yang lain … !!!

Untuk apa kau beratkan pikiranmu …
Dan bebanmu … satupun belum engkau letakkan dg benar …

Percayalah …
Ibu dan anak pemulung itu tetap akan menemanimu …
ia hanya berjalan ke taman sebelah untuk membantu membersihkan sejenak ...

Engkau tak perlu kesepian …
Karena masih ada orang gila, pemabok dan pengamen yang menemanimu …

Sementara ibu dan anak pemulung pergi sebentar …

Dan kalian pemabok dan orang gila …

Tetaplah di sana menanti pemulung …
Tetaplah di sana walau matahari mulai meredup …

Dan kamu orang pingsan !!!

Peneriak kalimat pemersatu …
Peneriak uluran tangan itu …
Penyambut tiupan angin ….

Tangan kita waktu itu mengepal …
Tapi entah hatiku seolah mengadah …

Tangan kita waktu itu benar-benar mengeras …
Tapi entah hatiku seolah melembut …

Teriakan kita waktu itu menggetarkan …
Tapi entah hatiku seolah bersenandung …

Dalam gelap kita berbangga …
Dalam gelap kita berpuisi …

Menanti garis sinar di balik kubah hijau …

Tapi cukup !!!
Tak usah lah kalian pergi dari pikiranku …

Ingatkan kenangan kita di taman itu ….

Saat engkau benar-benar menangisi kepergian anakmu …
Saat engkau benar-benar berhenti berharap karena nasimu tak terjual …
Saat engkau benar-benar bersedih karena teriakan …

Ingatlah aku …
Ingatlah kamu …
Ingatlah mereka …

Yang tidak akan membiarkan setetes air matamu jatuh sia-sia …
Yang tidak pernah membiarkan setitik luka pada dirimu …

Di ujung dunia manapun kamu …
Ingatlah kamu mengenal kami …

Di malam ini …
Di realita sandiwara ini …
Kalian berhasil mencuri anganku …

Lihat dari sini ku merindu …
Lihat dari pasir ini ku berharap hujan …

Coretan tangis yang sangat melekat ...
Garis senyum yang tak terlupa …

Begitu indah …

0 komentar:

Post a Comment