Thursday, March 17, 2011

Mengapa Sudra Bukan Brahmana ???

    Lingkaran sempurna bulan pada malam kini , membawa akal kembali ke zaman sekitar 14 abad lalu , mencoba tuk berpikir ketika diameter bulan – dengan izin dan kuasaNya – terbelah melalui mu'jizat dari tangan suci utusanNya , hanya untuk membuktikan keadilan dan kesempurnaan agama Islam, jauh melebihi agama berhala yang kala itu , telah menjadi inti dari kehidupan pendduduk Mekkah .

    Keadilan … keadilan yang tidak pernah mengecewakan siapapun yang berpegang teguh dengannya , yang tak pernah membedakan kasta seseorang berdasar nasab atau materi , keadilan yang tak pernah merasa segan untuk menolak kebathilan dan tak pernah ragu untuk menerima kebenaran .

----------------------------- 



    Keadilan … adalah keputusan yang sering disalah artikan hanya demi mendapatkan popularitas semu dan mengabaikan semilir bisik fitrah suci dalam jiwanya sendiri . Merendahkan martabat dan meninggikan derajat yang lain hanya karena kedekatan dzahiriyyah yang ditimbang dengan nafsu dan keinginan buta.

    Kini, di zaman yang mulai menuhankan materi,banyak pandangan bahwa tinggi rendahnya martabat seseorang adalah berdasar pada seberapa banyak tumpukan hartanya … seberapa megah rumah yang dihuninya … dan seberapa mewah mobil yang di kendarainya … semua ini hanya pikiran sempit untuk mendapatkan status brahmananya dan menguasai segalanya. Berbuat semena-mena terhadap semua kaum sudra yang dianggap berada di bawah kastanya dalam hal materi dan nasab. Sampai keadilan yang seharusnya diambil dari hati,kini mulai terkotori oleh hasutan busuk dunia yang nilainya tidak berharga sedikitpun dibanding dengan beban yang akan ia pikul di hadapan Penciptanya kelak.

    Brahmana dan sudra … dua kasta yang berbeda.Brahmana sebagai tuan tanah yang dikelilingi "emas" dan dan "kehormatan", sedangkan kaum sudra sebagai buruh tani yang dipenuhi "kutu" dan "keihinaan",selalu membuat miris hati yang putih,seakan tak ada lagi kesempatan bagi kaum sudra untuk merasakan sekedar kilaunya emas dan hangatnya jiwa merasakan keadilan ketika mereka berharap.
Mereka dipaksa untuk tunduk pada kebijakan sang Brahmana,meresapi permainan kotor tuannya,dan dipaksa untuk memahami raungan buas meski dalam diam mereka merintih.

    Tetapi,bukan Brahmana dan Sudra yang akan kita bahas,melainkan keadilan yang cahayanya kini mulai meredup karena tersamar oleh kumpulan titik hitam nafsu dan materi.

    Menempatkan sesuatu pada tempatnya,mungkin kalimat inilah yang paling tepat ketika kita berbicara tentang makna keadilan.Memutuskan kebenaran dan memvonis kesalahan ketika diminta,merujuk pada kesucian nurani tanpa pernah melihat kehormatan nasab dan kemewahan hartanya.

    Membela kebenaran tanpa pamrih,ini jugalah yang menjadi salah satu inti dari agama kita,memimpin dalam ketegasan dan tidak pernah bersandar pada nafsu. walaupun sang hakim harus memutuskan hukuman terberat bagi sang Raja tanpa rasa segan.
Menjembatani hak orang lemah dengan perasaan lega dari semua pihak,tidak hanya mementingkan tujuan yang tidak jelas sehingga menimbulkan kebimbangan di hati para jelata.

    Bukankah telah diterangkan dalam kitabNya yang mulia dalam surat Al-Maidah ayat 8 :

( اعدلوا هو أقرب للتقوى )
"Berlaku adillah,karena itu lebih dekat kepada taqwa …"

    Kemudian hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Rosul … bahwasanya beliau pernah bersabda termasuk dari salah satu penyebab Allah menaungi hambanya pada hari kiamat kelak adalah kepada imam yang adil.

    Dan dalam hadits lain yang juga membuktikan keadilan islam adalah :

" لو كانت فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها "
"Jikalau Fathimah binti Muhammad mencuri maka aku akan memotong tangannya."

    Hadits di atas jelas menerangkan tentang adilnya agama ini.Karena Rosul sendiri sebagai panutan kita akan menghukum tegas buah hatinya jika ia bersalah,diikuti rasa ikhlas dengan tidak tersilaukan oleh dunia dan jabatan.

    Tetapi, dewasa ini banyak dari kalangan muslim yang mulai mengabaikan tuntunan agamanya sendiri dan beralih qiblat pada penganut lain, seakan mereka tidak bangga terhadap keadilan yang di bawa nurani mereka sendiri,sampai tekadang di tempat yang dianggap sucipun kini keadilan mulai merapuh.

    Tidakkah kita pernah membayangkan, jika kita sendiri adalah mereka yang ditindas, jika kita sendiri adalah sudra yang tidak mereka anggap keluhannya, tidakkah kita merasakan jika tangisan mereka adalah tangisan kita, dimanakah letak keadilan saat ini, apakah dia bersembunyi atau bahkan telah kalah ditelan gemerlapnya hiasan dunia, telah redupkah sinar fitrah dalam tiap jiwa yang mengaku brahmana ketika menghukumi sekelompok sudra … ??

    Menangislah wahai nurani yang suci ..! 
    Bersihkanlah kotoran dunia dengan tangan fitrahmu, perbedaan bukanlah alasan bagi kita untuk memblok-blok manusia seenaknya, melainkan adalah kesempatan yang dianugerahkan kepada kita untuk bersatu dan saling memahami, hargailah tiap jiwa yang di ciptakan, sebagaimana islam menghargai yang lain.

    Pengamalan atas firman Allah dalam surat Al-Hujurat, ayat 13 :

( ياأيهاالناس إنا خلقنكم من ذكروأنثى وجعلناكم شعوباوقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقكم إن الله عليم خبير )

"Wahai manusia ,! sunguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sungguh yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertakwa, sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."

    Kesempurnaan islam telah jelas, tak akan ada sudra, tak akan ada brahmana, kasta seseorang akan dinilai dari hati dan ketakwaan mereka kepada Allah, jauh dari kenistaan dunia yang begitu kotor, seorang kumal yang tidak memiliki apa-apa bisa jadi lebih baik di hadapan Robbnya dibanding dengan seorang pemilik separoh dunia yang buta tentang hakekat hidup.

    Sampai kapanpun, selama matahari belum terbit dari barat dan selama nyawa belum sampai di tenggorokan, tiada kata terlambat untuk melakukan perubahan, mulailah dari diri sendiri, merubah dunia menjadi lebih baik dan meninggalkan jejak yang indah ketika kita telah hengkang dari dunia ini, teruslah mengukir senyum di bibir hamba yang hina dan tanamlah hijaunya kedamaian dalam lahan subur hati mereka untuk mewujudkan dunia yang lebih baik dengan menghargai setiap ciptaanNya. 

ALLAHU AKBAR ....!!!!

1 komentar:

  1. Saya sangat tersentuh degan kata, "Berbuat adilah, karena itu lebih dekat kepada ketakwaan". Thanks Bagas, buatlah tuliasan inspiratif lainnya yang senantiasa membuka mata.

    bila ada waktu mampirlah ke http://miftahunanote.blogspot.com/

    ReplyDelete