Sunday, February 03, 2013

Road To Samanud



“ini kisahku …
ini hidupku …
Di tengah desakan ini aku mencoba tersenyum …
Tersiksa dalam gembira …
Mereka mengira aku nakal, padahal mereka tak tahhu bagaimana aku hidup …
Mereka mengira aku malas, padahal mereka tak tahu bagaimana aku seperti saat ini …


Tahukah kau ??
Aku tak seperti anak yang dituntun itu …
Mesra hangat dari orang tuanya …
Temanku hanya gerbong dan rel ini …
Tak tahu darimana orang yang ada di depanku saat ini datang …
Membawa banyak kertas bergambar, pemantik api dan sesuatu yang dia hisap …

Aku kedinginan … dan tidak ada yang peduli aku memakai baju atau tidak …
Karena kehangatan pun sudah lama menjauh dari hatiku …
Kakiku terkilir … dan tak ada seorangpun yang mau melihatku …

Taukah kalian sampah ??!
Entah samakah aku dengannya di mata kalian …
Aku sekarang memakai baju orange …

Baju yang 2 tahun lalu diberikan oleh orang di depanku ini …
Celana,, sandal,, dan kotoran bekas debu asap ini semua berkat dia …

Sebentar ,,
Lihat,, manis sekali senyum gadis kecil itu …
Senyum bahagia kedua orang tuanya pun tak kalah manisnya …

Sudahlah ,,
Tak ada gunanya menyesali semua … ini kisahku …

Aku berumur 7 tahun …
dan aku merokok …”

Dalam dudukku aku mencoba membaca genangan air matanya. Menatap kosong jalanan dan semua yang ia lihat dari pintu kereta.

Aku duduk di lantai dekat pintu kereta. Di hadapanku ada bapak berumur 45 – 50 tahun. Dia tampak senang sekali melihat anak-anak kecil itu tersenyum. “senyum mereka terlalu tulus” begitu bisik hatinya. “Tak ubahnya pun senyummu ammu …” timpal hatiku.

Dan ketika kutanya berapa jumlah anaknya, dia hanya menggeleng. Istripun tak punya karena kekangan adat yang lebih melihat tingginya mahar daripada cinta.

Hmmmm… Yaa Allah …
Terimakasih telah memberikan waktu kepadaku untuk bertemu mereka,,
Untuk membaca kerut di dahi mereka …
Untuk merasakan senyum terindah mereka ,,,
Walau tak lama …

Ijinkan aku menangis untuk mereka yaa Allah …

Terimakasih untuk pulpennya ammu. Karena kebaikanmu aku bisa melukis teriakan keabstrakan hati.

0 komentar:

Post a Comment