Road To Samanud
“ini kisahku …
ini hidupku …
Di tengah desakan
ini aku mencoba tersenyum …
Tersiksa dalam
gembira …
Mereka mengira aku
nakal, padahal mereka tak tahhu bagaimana aku hidup …
Mereka mengira aku
malas, padahal mereka tak tahu bagaimana aku seperti saat ini …
Tahukah kau ??
Aku tak seperti anak yang dituntun itu …
Aku tak seperti anak yang dituntun itu …
Mesra hangat dari
orang tuanya …
Temanku hanya
gerbong dan rel ini …
Tak tahu darimana
orang yang ada di depanku saat ini datang …
Membawa banyak
kertas bergambar, pemantik api dan sesuatu yang dia hisap …
Aku kedinginan …
dan tidak ada yang peduli aku memakai baju atau tidak …
Karena kehangatan
pun sudah lama menjauh dari hatiku …
Kakiku terkilir …
dan tak ada seorangpun yang mau melihatku …
Taukah kalian
sampah ??!
Entah samakah aku dengannya di mata kalian …
Entah samakah aku dengannya di mata kalian …
Aku sekarang
memakai baju orange …
Baju yang 2 tahun
lalu diberikan oleh orang di depanku ini …
Celana,, sandal,,
dan kotoran bekas debu asap ini semua berkat dia …
Sebentar ,,
Lihat,, manis
sekali senyum gadis kecil itu …
Senyum bahagia
kedua orang tuanya pun tak kalah manisnya …
Sudahlah ,,
Tak ada gunanya
menyesali semua … ini kisahku …
Aku berumur 7
tahun …
dan aku merokok …”
Dalam dudukku aku mencoba membaca genangan air matanya. Menatap kosong jalanan dan semua yang ia lihat dari pintu kereta.
dan aku merokok …”
Dalam dudukku aku mencoba membaca genangan air matanya. Menatap kosong jalanan dan semua yang ia lihat dari pintu kereta.
Aku duduk di
lantai dekat pintu kereta. Di hadapanku ada bapak berumur 45 – 50 tahun. Dia
tampak senang sekali melihat anak-anak kecil itu tersenyum. “senyum mereka
terlalu tulus” begitu bisik hatinya. “Tak ubahnya pun senyummu ammu …” timpal
hatiku.
Dan ketika kutanya
berapa jumlah anaknya, dia hanya menggeleng. Istripun tak punya karena kekangan
adat yang lebih melihat tingginya mahar daripada cinta.
Hmmmm… Yaa Allah …
Terimakasih telah
memberikan waktu kepadaku untuk bertemu mereka,,
Untuk membaca
kerut di dahi mereka …
Untuk merasakan
senyum terindah mereka ,,,
Walau tak lama …
Ijinkan aku
menangis untuk mereka yaa Allah …
Terimakasih untuk
pulpennya ammu. Karena kebaikanmu aku bisa melukis teriakan keabstrakan hati.

0 komentar:
Post a Comment